Hari Guru


Seragam batik putih berlogo PGRI banyak kujumpai di perjalanan Kediri-Surabaya kemarin. Iya, 25 november adalah hari yang di-special-kan untuk seluruh guru di Indonesia.  Hari Guru Nasional ini mulai diperingati pada tahun 1945 ketika PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) resmi didirikan. Biasanya hari guru diperingati dengan upacara bendera, tapi di beberapa daerah juga ada event lain yang mengikutinya.

Di perjalanan Kediri-Surabaya terlintas cerita dari seorang guru, cerita beliau menjadi seorang guru, yang menurutku begitu inspiratif karena perjuangannya. Guru tersebut tidak lain adalah bibi atau adik dari ayahku sendiri, yang sebelumnya tak pernah terlintas dibenaknya untuk menjadi seorang guru. Ok, aku akan mulai menceritakan kembali pengalaman hidupnya

#Berawal Dari Keluhan Buah Hati

Hari itu, nita (anak bibi yang masih SD), mengeluh karena guru kelasnya (homeroom teacher) jarang sekali untuk mengajar, ada saja kegiatan di luar sekolah, siswanya lebih banyak belajar sendiri dengan diberi tugas di kelas. Padahal tentu sebagian besar mata pelajaran dipegang oleh guru tersebut. Bibi adalah seseorang yang perhatian sekali dengan pendidikan anaknya, beliau langsung mendatangi sekolahan anaknya untuk menanyakan kejelasannya.

#Bermula dari Inisiatif

Bibi sepertinya sudah tidak habis pikir mengenai guru kelas anaknya yang jarang mengajar. Beliau berinisiatif untuk mengajar kelas tersebut ketika guru kelas tidak mengajar. Tanpa ada perintah atau permintaan, berhari-hari beliau terus mengajar kelas tersebut, mungkin beliau adalah satu-satunya walimurid yang mengajar di kelas anaknya sendiri :). Beliau bercerita, kalau seperti panggilan dari hati untuk mengajar, dimana hampir seluruh saudara termasuk ayahku adalah seorang guru. Beliau terus mengajar hingga kepala sekolah mengetahui mengenai walimurid yang mengajar di kelas.

#Rapat Pertama Sebagai Guru

Perhatian kepala sekolah terbukti dengan mengundang bibi untuk menghadiri rapat guru di tahun ajaran baru. Bibi sangat kaget dengan undangan tersebut karena beliau tidak pernah merasa melamar pekerjaan disana, walaupun beliau sudah seperti ‘bekerja’ di sana. Hadir dengan pakaian sopan biasa, bersandal, tanpa tas beliau berangkat. Sampai di sekolah dasar, beliau dipersilahkan kepala sekolah untuk masuk ruangan rapat, beliau tentu malu karena semua guru berseragam dan bersepatu, beliau akhirnya duduk dan mengikuti rapat. Ternyata rapat itu membahas pembagian kelas untuk ajaran baru, dan bibi mendapat jatah kelas.

#Resmi Menjadi Guru

Bibi sungguh senang dan bergegas untuk berbelanja busana untuk mengajar, karena beliau tentu tidak pernah punya busana resmi untuk mengajar, serta sepatu dan tas tidak ketinggalan. Persiapan lebih pada penampilan, untuk kemampuan pendidikan, S1 yang ditempuhnya sudah lebih dari cukup. Hari pertama menjadi guru tentu sangat berkesan bagi beliau, profesi yang sebelumnya tak pernah ada di benaknya. Sebulan kemudian beliau ditanya oleh kepala sekolah, “Mau lanjut jadi guru bu?”. Bibi menjawab, “Iya pak”. Kepala sekolah melanjutkan, “Kalau begitu bikin lamaran dong!”. Bibi sampai lupa kalau lamaran pekerjaan syarat khusus untuk menjadi guru yang nantinya diteruskan ke dinas pendidikan untuk pencatatan.

#Guru tidak hanya ‘Mengajar’

Saat ini, bibi tidak hanya mengajar di sekolah tapi juga di rumah dengan membuka bimbel. Selain itu hari sabtu ia luangkan untuk bimbel gratis di sekolah. Aku masih teringat jelas diakhir cerita beliau berkata bahwa “Mengajar itu gampang, Mendidik yang susah“. Beliau memang menjadi guru tidak hanya ingin mengajarkan cara mengerjakan suatu soal matematika, mengartikan bahasa sunda, dan mengeja suatu kata di bahasa indonesia. Beliau juga ingin mengajarkan bagaimana bersikap, bagaimana memutuskan suatu masalah atau bagaimana berhubungan pertemanan. Benar, ungkapan bahasa jawa tentang Guru (digugu lan ditiru), yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar tapi juga mendidik. Hal yang patut menjadi refleksi seluruh guru di hari guru nasional ini.

Selamat Hari Guru. Terimakasih guru atas semua jasamu, terimakasih.

Advertisements

Posted on November 26, 2011, in #Experiences, #Life. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. aku baru nyadar kamu punya blog. Padahal ada di blogrollku… lol

  2. Cerita ini pernah pula terjadi di desaku. Saat itu sekolah tempatku mengajar kekurangan guru, sebenarnya rekan2 kerjaku waktu itu banyak yg cuti panjang, tak dinyana seorang wali murid datang tak diundang mengajar di kelas putranya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: