Beauty of West Borneo


Retelling pengalaman tinggal di Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak, kota dimana terdapat titik 0 latitude-longitude. Perjalanan dimulai di awal 7 Maret 2012, aku dan kelima temanku berangkat dari Soeta mengendarai pesawat kebanggaan rakyat Indonesia , ya Garuda Indonesia. Boarding pukul 12.00 dan landing di pontianak sekitar pukul 13.00.

Terik matahari yang menyengat ditambah angin kering menjadi sajian pertama ketika pertama kali keluar dari pintu pesawat di Bandara Supadio.Ya, memang ibukota kalimantan barat ini terkenal dengan suhunya, dengan rata-rata 30C, suhu yang kurang bersahabat dengan suhu tubuh manusia. Sesampainya di kota Pontianak, kita langsung menuju kantor untuk ‘sowan’ mengenai kegiatan OJT kami disini. Kemudian kita mencari tempat tinggal sore itu juga, dan dapat tempat yang lumayan nyaman serta tak terlalu jauh dari kantor. Ada yang unik dengan konstruksi rumah disini, yaitu atap yang sebagian besar menggunakan seng (*pantes panas) dan model rumah panggung atau tidak langsung menempel tanah.

Sebagaimana kota besar lain di Indonesia, Pontianak juga berpenduduk heterogen. Akan tetapi, ada dua ras mayoritas yang tinggal di pontianak yaitu dari kalangan melayu dan tionghoa. Keduanya tinggal rukun bersamaan, saling berdampingan dan bekerjasama. Seperti terlihat di warung nasi kebuli dan roti cane tempat kita biasa sarapan, pemilik (seorang tionghoa) tempat menyediakan ruang makan dan minuman, sementara yang berjualan makanan orang melayu. Namun, walaupun berbeda mereka disatukan dalam satu bahasa daerah, bahasa melayu, populernya bahasa upin-ipin :).

Selama 3 bulan disana, ada cara ampuh untuk mengatasi rasa bosan, yaitu dengan makanan, karena banyak tempat-tempat yang menjajakan berbagai macam masakan. Dan itu terletak dalam satu jalan, yang sangat memudahkan bila ingin sekedar mencicipi satu persatu :). Hampir tiap hari kita selalu makan di tempat yang berbeda (*mengatasi kebosanan).

Pada minggu kedua bertepatan dengan long weekend, kita berencana untuk berwisata alam, menelusuri bagian terindah dari alam pontianak. Singkawang, terletak 145 km di utara kota pontianak. Kabarnya ada beberapa tempat wisata disana, tetapi kita hanya sempat di satu tujuan saja, karena jaraknya memang cukup jauh dari kota. Kita habiskan waktu di  pantai pasir panjang, pantai yang menghadap lautan natuna ini memang sudah terkenal dengan keindahannya, pasir putih, ombak yang sedang, membuat kita lebih nyaman untuk bermain-main di pantai itu.

anywhere, anytime #mainbola

Pantai panjang singkawang, layaknya pantai lainnya di Indonesia, sudah menjadi lahan bisnis sendiri bagi warga sekitarnya. Mulai dari restoran, hotel, bangunan boneka raksasa, zoo, dan lain-lain, ada disana. Pada saat kita disana juga menjadi tempat kumpul para offroader dunia. Tapi untungnya, keindahan dan kebersihan pantainya masih terjaga, bebas dari sampah-sampah yang biasa kita lihat di pantai lain di Jawa. Mungkin juga karena pengunjungnya tidak sebanyak bila di Jawa, tapi dengan ‘tidak ramai’ membuat wisata lebih enak dan khidmat :).

Bangunan boneka-boneka raksasa

dan alhamdulillah, dapet view sunset

Terakhir, ada dua hal yang sangat ditekankan penulis, bila tinggal di kota pontianak:

  1. Jangan pernah mencoba tidur tanpa kipas atau AC
  2. Berkumurlah dengan air mineral

🙂

 

Advertisements

Posted on July 14, 2012, in #Experiences, Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: